Special 1 : Strategi Meningkatkan Produksi Dalam Negeri
Sebagaimana
telah disinggung sebelumnya di Materi 5 : Perspektif Strukturalisme, Model Pembangunan
yang mereka usung mengajukan gagasan bahwa percepatan industrialisasi akan
semakin mengurangi ketergantungan negara berkembang kepada negara maju, yang
mana ketergantungan tersebut justru dapat menjadi pemantik konflik
antar-negara. Percepatan industrialisasi dalam negeri ini tentu akan meningkatkan
produksi dalam negeri.
Apabila memang model pembangunan
strukturalis ini dapat diwujudkan, maka industri di negara – negara berkembang,
seperti Indonesia, akan tumbuh lebih cepat, lebih besar dan tentunya menghidupi
banyak orang. Tetapi, perlu kita sadari, model pembangunan yang diusung strukturalis
ini memiliki cacat alias tidak sempurna. Semua perspektif ekonomi memiliki
caranya masing – masing untuk meningkatkan perekonomian negaranya, termasuk
proses percepatan industrialisasi dalam rangka meningkatkan produksi dalam
negeri. Lalu, langkah seperti apa yang harus diambil Indonesia untuk meningkatkan
produksi dalam negerinya?
Harus kita sadari terlebih dahulu, bahwa
Indonesia bukanlah negara yang buta industri. Saat ini Indonesia telah mendapat
status sebagai Negara Indutri Baru atau “newly industrialized country”, bersama
9 negara lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Ini berarti, industri kita,
yang mencakup produk dalam negeri kita, telah dipandang sebagai salah satu
industri baru yang cukup besar dan mandiri. Oleh karena itu, yang kita perlu
susun ialah strategi – strategi dalam semakin mengembangkan UKM – UKM kita,
dalam rangka meningkatkan produktivitas produk dalam negeri.
1.
Memerhatikan Produktivitas Produsen Dalam Negeri.
Apapun produknya, apabila produktivitas
para produsen dapat dikontrol dengan baik, maka hasilnya tentu akan jauh lebih baik.
Produktivitas ini meliputi bagaimana produsen memanage produksinya sehingga
produksinya stabil bahkan cenderung meningkat, baik dalam kualitas maupun
kuantitas. Produktivitas ini dapat ditinjau dari pengadaan audit perusahaan,
atau rapat internal perusahaan. Produsen yang memproduksi barang dengan kualitas
tinggi secara stabil meningkatkan kepercayaan publik pada brand tersebut. Lalu,
bagaimana peran pemerintah dalam mewujudkan terawasinya produktivitas produsen
dalam negeri? Pemerintah dapat menyelenggarakan pelatihan, seminar, atau kursus
tertentu untuk menananmkan pentingnya produktivitas produksi kepada setiap produsen
dan badan usaha di Indonesia.
2.
Menanamkan Pentingnya Branding dan Promosi kepada Produsen
Dalam esainya yang berjudul “Pemberdayaan UMKM Panganan Tradisional melalui Kampanye dan Promosi Daring serta PenggunaanTeknologi Informasi Lainnya”, Vladimir Augustian Simbolon, penulis blog ini,
menekankan pada peningkatan branding dan promosi apabila sebuah
usaha UMKM ingin mengalami kemajuan. Promosi, menurut Kotler (2009) adalah
bagian dan proses strategi pemasaran sebagai cara untuk berkomunikasi dengan
pasar. Selama ini, banyak produsen yang menaganggap bahwa promosi bukanlah hal
yang terlalu penting, sehingga engagement yang ditimbulkan sangat kecil.
Bahkan, banyak produsen belum mengetahui apa itu branding. Pemerintah, melalui
Kementerian Koperasi dan UMKM dapat memberikan kiat – kiat kepada pengusaha
muda dan badan usaha cara – cara bagaimana jangkauan produk mereka semakin luas
melalui promosi dan branding.
3.
Memberikan Pinjaman Modal dan Kebijakan Fiskal Moneter yang Berpihak pada
Produsen
Pinjaman modal bisa jadi merupakan
salah satu sumber pembiayaan awal bagi produsen. Selama ini, ada kecenderungan
keragu-raguan pemerintah dalam memberikan pinjaman modal secara massif. Hal ini
wajar karena mismanagement perusahaan dapat menimbulkan kerugian, yang
mana secara tidak langsung menjadi kerugian bagi negara. Oleh karena itu, pemberian
pinjaman modal, tentu dengan edukasi sebelumnya, menjadi salah satu kunci
penting dalam meningkatkan motivasi pengusaha dalam semakin menumbuhkan
inovasinya dalam produksi. Kebijakan moneter dan fiskal, seperti yang
menyangkut perpajakan badan usaha dan suku bunga pinjaman juga harus ramah
kepada para pengusaha.
4.
Edukasi Kewirausahaan Sejak Dini
Saat SMA, penulis mengingat betul
bagaimana kami harus bisa menghasilkan sebuah produk dan harus laris terjual dalam
hitungan hari. Saat kuliah pun, penulis mendapatkan mata kuliah kewirausahaan.
Ini menunjukkan komitmen pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan untuk menanamkan jiwa wirausaha di setiap peserta didik. Penulis
menyarankan, pengantar kewirausahaan sudah diajarkan sejak dini, bahkan saat
bangku SD. Apabila kita ingin mencapai tujuan kita, menciptakan iklim produksi
dalam negeri yang lebih ramah dan kondusif, kita juga harus menyiapkan generasi
muda kita agar sudah memahami dasar – dasar kewirausahaan sejak sangat dini,
tentunya dengan cara yang menyenangkan.
5.
Menanamkan Budaya Persaingan dan Kompetisi dalam Masyarakat
Menurut pengalaman pribadi penulis,
banyak pengusaha kecil – kecilan merasa pasrah dan berserah diri apabila usaha
mereka tidak laku, dengan kata lain, usaha mereka tergerus oleh usaha lain yang
sudah jauh lebih besar ketimbang mereka. Ditambah lagi, mereka cenderung
menyalahkan produsen lain yang jauh lebih maju daripada mereka, dengan dalih
memelihara tuyul, menggunakan susuk, dan sebagainya. Terdengar konyol memang,
namun kenyataan ini tersebar luas di masyarakat. Akarnya ialah tidak ada jiwa kompetitif
di antara pada produsen. Mereka cenderung pasrah dengan pekerjaan mereka, dan tidak
ada upaya untuk membesarkan produksi mereka. Ini merupakan salah satu budaya
yang harus kita ubah. Penulis sebenarnya kurang paham dengan strategi yang
mungkin mampu mengatasi budaya pasrah diri dan menyalahkan pihak lain ini. Penulis
menulis ini sebagai kritik sosial agar pembaca, terutama pengusaha, mampu meningkatkan
competitiveness mereka. Ini tentu berkaitan dengan pemunculan inovasi
sebagai upaya membesarkan usaha mereka.
Saran
– saran di atas memang kebanyakan ditujukan bagi para pengusaha yang telah memulai
dan sedang membangun usahanya. Bagi yang baru ingin merintis usaha, penulis
menyarankan untuk memikirkan bisnis apa dan seperti apa produk yang ingin
diciptakan, tentu sembari memikirkan branding dan promosinya. Penulis
tentu tidak menyatakan bahwa semua saran di atas adalah saran yang paling tepat
dan paling benar, penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca dapat semakin
memperluas pandangan penulis, dan secara bersamaan, memperdalam ilmu kita
semua.
Sumber Bacaan tambahan :




Komentar
Posting Komentar