Materi 5 : Perspektif Strukturalisme
Perspektif strukturalisme, yang merupakan turunan dari
Marxisme, cukup baik dalam memberikan penjelasan mengenai gap pembangunan dan
keterbelakangan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Strukturalis
menolak beberapa teori – teori ekonomi terkenal pada masanya, seperti teori
Keunggulan Komparatif karya David Ricardo ataupun teori dari duet Harrod-Domar yaitu
teori Pembangunan. Mari kita bedah kritik kaum strukturalis kepada teori tersebut.
1.
Kritik Strukturalis kepada Teori Keunggulan Komparatif karya David Ricardo
Seperti yang telah dijelaskan dalam
Materi 3: Perspektif Liberal – Kapitalisme, teori Ricardo ini mengatakan bahwa
setiap negara harus memiliki spesialisasi dalam produksi barang, sehingga
menciptakan perdagangan internasional yang lebih efisien. Bagi strukturalis,
teori tersebut hanya bersifat ideal saja. Jawaban secara fundamental yang
dibutuhkan bagi para strukturalis yang bersifat eksternal tidak bisa dicover
oleh teori comparative advantages karya Ricardo ini. Contoh, negara –
negara Selatan yang menghasilkan hasil pertanian dipindahkan surplusnya ke negara
– negara Utara yang menguasai industrinya.
2.
Kritik Strukturalis kepada Teori Pembangunan karya Harrod-Domar
Dalam teori Pembangunan
Harrod-Domar, ada dua hal yang ditekankan dalam manajemen pembangunan negara,
yaitu Tabungan dan Investasi. Bagi para strukturalis, tambahan modal bagi
negara yang mengalami persoalan keterbelakangan (under-develpoment) justru
menjadi permasalahan yang cukup serius. Negara – negara yang mengambil pinjaman
dan tambahan modal tersebut justru terus – terusan bergantung pada perangkap
kertergantungan ekonomi yang dibuat oleh negara – negara kaya.
3.
Kritik Strukutalis kepada Teori Tahapan Pembangunan karya W.W. Rostow
W.W.
Rostow, melalui teori tahapan pembangunan, membagi pembangunan negara ke dalam
lima tahap pembangunan, yaitu masyarakat tradisional, pra-kondisi tinggal
landas, tinggal landas, pematangan, dan konsumsi massa yang besar / konsumtif. Strukturalis
tidak melihat pembangunan menjadi sebuah hambatan, melainkan hubungan ekonomi
dan politik sebagai faktor penghambatnya. Ketika negara berkembang coba membuka
kerja sama dengan negara – negara maju, mereka justru akan menghadapi krisis
baru.
Seperti yang telah dituliskan di atas, strukturalisme
merupaka turunan dari marxisme. Maka dari itu, tidak heran apabila dalam strukturalisme,
terdapat stratifikasi atau kelas – kelas juga. Ada negara maju ada pula negara
berkembang. Ada negara inti (core) ada pula negara periferi (periphery).
Spesialisasi produksi, seperti dalam teori keunggulan komparatif Ricardo hanya
melihat bahwa pihak yang mampu meraup keuntungan ialah negara maju, sementara
negara berkembang akan terus – menerus mengalami ketergantungan.
Gerakan Pink Tide di Amerika
Latin pada awal tahun 2000-an menunjukkan cacat yang ditimbulkan dari Teori
Pembangunan Harrod-Domar. Pada tahun 1990an sampai 2000-an awal, banyak negara
Amerika Latin, yang baru saja mengalami transformasi demokratisasi besar –
besaran dilanda krisis keungan yang cukup berat. Menurut teori tersebut, negara
– negara tersebut harus ditanamkan investasi dalam rangka memulihkan perekonomian
mereka. Dana Keuangan Internasional (IMF) akhirnya mau dan memberi investasi
bagi mereka. Namun yang terjadi ialah sebaliknya. Tidak terjadi pembangunan di
negara – negara Amerika Latin. Justru IMF mengeruk sumber daya yang ada di
sana. Memang beberapa pihak, seperti orang – orang kaya mengalami untung, namun
masyarakat miskin menjadi semakin melarat. Inilah yang memicu lahirnya gerakan “Kembali
ke kiri” atau disebut “Pink Tide”. Pink, atau merah jambu dipakai dalam istilah
ini, karena tidak terlalu “merah” atau tidak mengidentikkan diri sebagai
gerakan sosialis-komunis.
Model Pembangunan Strukturalis
Pendekatan strukturalis telah lampau
digunakan oleh Raul Prebisch (mantan direktur Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika
Latin) dalam menganalisis situasi kemacetan ekonomi Amerika Latin. Selain itu,
strukturalis dengan giat mengkritik sistem perdagangan bebas serta hambatan –
hambatan pada industrialisasi negara – negara berkembang.
Oleh karena itu, bagi strukturalis,
dalam mempercepat pembangunan ekonomi negara – negara berkembang perlu diadakan
percepatan industrialisasi, dan juga substitusi industri impor. Bagi mereka,
percepatan industrialisasi akan semakin mengurangi ketergantungan negara
berkembang kepada negara maju, yang mana ketergantungan tersebut justru dapat
menjadi pemantik konflik antar-negara.
Banyak ahli berpendapat kalau strukturalis memang kuat
dalam teori, namun sulit dalam penerapannya. Belum ada teori yang mampu
mematahkan liberalism, di mana pasar bebas menjadi pusatnya, dengan
mengagungkan kebebasan individual serta kebebasan pasar. Marxisme-pun belum
bisa banyak diterapkan di berbagai negara sehingga ekonomi yang ada saat ini
ekonomi didominasi oleh liberalis – kapitalisme.
Saran bacaan atau
literatur terkait :
William Baumol dan Alan Blinder. 2008. Economics: Principles and Policy. Boston: Cengage Learning





Komentar
Posting Komentar