Materi 7 : Ekonomi Politik Pembangunan
Di
dunia kita ini, dikenal istilah untuk membagi capaian pembangunan negara, yaitu
negara maju dan negara berkembang. Negara berkembang atau secara resmi disebut
sebagai Least Developed Countries (LDCs) merupakan negara yang pendapatannya
rendah dan terkendala dalam mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan.
Kendala itu bisa berupa kemiskinan dan banyaknya masyarakat yang kurang berpendidikan.
Negara – negara ini juga rentan terhadap guncangan ekonomi dan lingkungan,
sehingga aset negaranya cenderung rendah. Dilansir dari laman resmi PBB, saat
ini ada 47 negara yang masih tergolong LDCs.
Ada banyak sekali teori – teori yang
terkait dengan ekonomi politik pembangunan, namun dalam blog ini penulis akan
menjabarkan tiga saja teori – teori yang berkaitan dengan mengapa negara harus
mempunyai andil besar dalam pembangunan ekonomi.
1.
Teori Keynesian
Teori Keynes didasarkan pada kejadian Great Depression
(1929). Saat itu, terjadi penurunan drastis nilai saham, kredit - kredit macet serta
banyak perusahaan mengamalami kebangkrutan. Pada saat itu, masyarakat panik
karena krisis ini. Pada tanggal 24 Oktober 1929, terjadi Black Thursday
peristiwa di mana harga saham turun. Pada saat itu, pemilik saham melepas sahamnya,
sehingga harga saham anjlok dan berefek pada negara lain. Tidak adanya campur
tangan negara dalam pasar akan membuat pasar itu tidak stabil. Campur tangan
pemerintah diperlukan untuk mengatur perekonomian suatu negara agar menghindari
kejadian tersebut.
2. Teori Developmental State
Teori ini diilhami dari kawasan Asia
Timur, karena pada zaman dahulu negara – negara di kawasan Asia Timur
menerapkan ini. Peran negara sangat sentral dalam pembangunan ekonomi, dan dalam
mempercepat proses industrialisasi. Negara – negara Asia Timur (seperti Jepang
dan Korea Selatan) melakukan industrialisasi untuk mengganti barang impor,
sehingga mereka bisa menciptakan dan menggunakan produk dalam negeri.
Negara maju, dengan income yang tinggi, bisa
melakukan sustainable development, dengan sumber daya manusia yang memadai dan terdidik.
Perdaganangan internasional, di negara maju, akan menjadi engine of growth
(alat pertumbuhan) untuk membangun ekonomi negaranya. Hal ini tentu berbeda
dengan negara berkembang. Bagi negara berekembang, perdagangan internasional terlibat
dalam trade pessimism, atau sifat pesimis terhadap perdagangan. Karena ini
negara cenderung stuck di level berkembang, karena kemampuan masyarakat untuk
menabung cenderung rendah, sehingga investasinya rendah, karena investasi yang
rendah, industrinya menjadi tidak maju, tidak berkembang, dan tidak efisien. Produk
industri yang dihasilkan akhirnya justru tidak berkualitas dan tidak kompetitif
di pasaran.
Sehingga
dalam teori ini, solusinya ialah melakukan proteksi terhadap perdagangan dan
melakukan strategi impor substitusi. Proteksi perdagangan dilakukan dua cara
yaitu dengan adanya hambatan tarif dan non-tarif.
·
Hambatan tarif merupakan
hambatan yang berupa pengenaan pajak kepada produk yang akan masuk ke suatu
negara. Dengan adanya pajak tinggi, maka harga – harga barang tersebut akan
mahal. Ini akan menghambat negara lain untuk ekspor
·
Hambatan non-tarif merupakan
hambatan dengan cara memberlakukan kuota. Setiap produk tertentu akan ditentukan
kuotanya. Hambatan non – tarif bisa juga berupa peraturan, seperti peraturan kesehatan
yang ketat, dan sebagainya. Ini bisa dilakukan negara berkembang untuk
melindungi infant industries yang masih berkembang di negara tersebut.
·
Substitusi impor =
dalam teori pembangunan, jika suatu negara ingin maju, negara tersebut harus
menerapkan kebijakan perdagangan, di mana industrialisasi harus dilakukan,
sehingga barang – barang impor bisa diganti oleh produk dalam negeri.
3.
Teori Tahapan Pembangunan W.W. Rostow
WW Rostow mengatakan bahwa
ada beberapa tahapan pembangunan yang akan dilalui negara untuk menjadi negara
maju, yaitu :
1. Traditional
society = produksi masayrakat masih primitif dan turun –
menurun, sehingga produksinya tidak berkembang. Sebagian masyarakat bekerja di
sektor agraris
2. Pre-condition
for take-off = pertumbuhan ekonomi sudah mulai terjadi
dan negara tersebut mulai merombak sistem produksi tradisional mereka
3. Take-off
= birokrasi sudah terdidik, negara terlibat dalam pasar terbuka, sehingga
memungkinkan terjadinya investasi
4. Drive
to maturity = perekonomian sudah sangat berekmbang, produksi
sudah menggunakan teknologi modern dan alat canggih lainnya
5. Age
of high mass consumption = perhatian masyarakat akan
pemenuhan kebutuhan sangat tinggi. Masyarakat akan mencapai kepuasan hidup
dengan meningkatkan konsumsi kebutuhan tersier / kebutuhan mewah.
4.
Teori Pembangunan Paul Baran
Paul Baran berpendapat bahwa sebenarnya negara berkembang
sulit mengejar ketertinggalan, kecuali melakukan revolusi. Atau, negara
berkembang bisa saja memperoleh surplus potensial dengan memaksimalkan sumber daya
alam mereka dan melakukan pengolahan dengan teknologi, serta memaksimalkan
tenaga kerja mereka.
5.
Teori Pembangunan Arthur Lewis
Arthur Lewis membagi perekonomian menjadi
dua jenis yaitu tradisional dan modern. Pembangunan tradisional
dicirikan sebagai pembangunan yang produktivitasnya rendah tetapi tenaga
kerjanya banyak. Sementara, pembangunan modern merupakan pembangunan yang
produktivitasnya tinggi tetapi tenaga kerjanya sedikit. Tambah Lewis, tenaga
kerja tradisional ini dapat ditransfer ke negara dengan perekonomian modern.
Tenaga kerja ini dapat dididik dan digaji, dan akhirnya memulai pembangunan perekonomian
tradisional. Walau, biasanya yang diuntungkan di sini hanya para pemilik
prusahaan bukan pekerjanya.
6.
Teori Pembangunan Ronstein-Rodan
Teori Ronstein-Rodan sering disebut sebagai big-push
theory. Dalam teori ini, sebuah negara bisa melakukan pembangunan dengan
pemanfaatan investasi dalam negeri. Investasi ini yang kemudian menjadi
pendorong pembangunan dalam negeri. Namun, tetap harus kita sadari, permasalahan
rendahnya tabungan masyarakat negara berkembang sangat berpengaruh terhadap
pemanfaatan investasinya, yang bisa dikatakan, sangat rendah.
Saran bacaan atau literatur terkait :
Rostow, W.W. 1991. The Stages of Economic Growth A Non-Communist Manifesto. Cambridge: Cambridge University Press





Komentar
Posting Komentar