Materi 2 : Perspektif Merkantilisme


Dalam ekonomi politk internasional, yang terkait dalam keilmuan hubungan internasional, terdapat beberapa perspektif yang menonjol. Perspektif tersebut di antaranya berasal dari Merkantilisme, Liberalisme, Marxisme, Strukturalisme, dan Teori-Teori Kontemporer. Perspektif di sini berarti sudut pandang, atau asumsi dasar, serta cara memandang suatu fenomena politik internasional. Berarti, setiap paradigma tersebut memiliki sudut pandang mereka sendiri – sendiri dalam memandang “ekonomi politik”.

Merkantilisme lahir dan berkuasa di Eropa, khusunya Eropa Barat pada abad ke-16 sampai 18. Saat itu, merkantilisme menganggap dunia berada dalam anarki. Maka, yang harus dilakukan ialah memperkuat dan meningkatkan perekonomian negara sendiri, atau melakukan transaksi ekonomi dengan negara lain. Apabila negara tersebut kuat, baik secara ekonomi maupun militer, maka negara tersebut bisa bebas dari segala bentuk intervensi negara lain.

Bagi merkantilisme, hubungan ekonomi dan politik dianggap saling melengkapi. Konsekuensi terhadap anggapan paham ini menempatkan hubungan internasional sebagai ajang konflik, sehingga terciptalah game theory zero-sum game, yaitu keuntungan suatu negara menjadi kerugian bagi negara lain. Merkantilisme akan selalu berusaha keras agar menjadi pihak yang menang.

Merkantilisme memercayai bahwa ekonomi dapat berjalanan dengan stabil apabila dikelola oleh negara. Dengan kata lain, negara ikut campur dalam urusan ekonomi, dengan otoritas tertingginya. Berbeda dengan paham liberalisme, di mana pasar dapat berubah – ubah, merkantilisme berorientasi pada perimbangan kekuatan.

Liberalisme melihat ekonomi sebagai cara bagi negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Sementara merkantilisme lebih realistis. Baginya, ekonomi dapat digunakan dalam memperkuat politik serta militer (pertahanan) bagi sebuah negara sehingga dapat tetap bertahan dalam kondisi dunia yang anarki.

 

Beberapa poin kritik terhadap Merkantilisme, ialah :

1.      Negara terlalu berlebihan dalam menekankan kepentingan nasional, sehingga dapat merugikan kepentingan global

2.      Mudah menimbulkan konflik

3.      Terabaikannya kepentingan bersama yang menjadi basis kerjasama

4.      Penekanan pada kepentingan nasional dan mengganggu efisiensi global.



Saran bacaan atau literatur terkait :

 

Magnusson, Lars. 2015. The Political Economy of Mercantilism. London: Routledge



Ingin baca materi lain? Kembali ke daftar isi dengan meng-klik gambar di bawah ini 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 6 : Kosmopolitanisme Ekonomi

Materi 4 : Perspektif Marxisme

Materi 3 : Perspektif Liberal - Kapitalisme